Senin, 31 Agustus 2015

LAPORAN RUGI / LABA (7) - Earning Per Share atau Laba Per Saham

Hai teman-teman, apa kabar. Semoga lebih fresh setelah menikmati weekend kemarin. Hari ini kita akan meneruskan belajar membaca laporan keuangan untuk menjadi filter kita sebelum menginvestasikan uang kita pada sebuah perusahaan tertentu dengan membeli sahamnya. Kali ini kita akan membahas komponen terakhir dari sebuah Laporan Rugi/Laba, yaitu Laba Per Saham atau biasa disebut Earnings Per Share (EPS). Setelah ini kita akan membedah laporan keuangan yang lain yaitu Neraca. Nah, apa yang akan kita lihat dan harus dimiliki perusahaan kita untuk EPS ini?

Sebelumnya mari kita mencari tahu dulu bagaimana cara menghitung EPS. EPS didapat dari membagi laba bersih perusahaan dengan jumlah saham yang beredar. Sebagai contoh, jika perusahaan membukukan laba bersih tahun 2014 sebesar 10 Milyar Rupiah dan jumlah saham yang beredar adalah 100 juta lebar, maka EPS nya adalah Rp 100 per lembar.

Kita tidak akan menemukan arti apa-apa hanya dengan melihat satu periode atau satu tahun EPS. Untuk menemukan perusahaan dengan keunggulan kompetitif jangka panjang kita perlu melihat minimal sepuluh tahun kebelakang. Apa yang kita cari? Kita mencari 10 periode atau 10 tahun EPS yang menunjukan konsistensi tren meningkat. Gambarannya seperti ini :

     Tahun          EPS
2014 120
2013 105
2012 85
2011 70
2010 65
2009 55
2008 50
2007 45
2006 36
2005 30

Contoh di atas menunjukkan perusahaan memiliki EPS yang konsisten memiliki tren meningkat dalam jangka panjang. Hal ini memberikan tanda bahwa perusahaan memiliki sesuatu keunggulan kompetitif untuk jangka panjang. EPS yang konsisten ini menunjukkan bahwa perusahaan menjual sebuah produk atau banyak produk maupun jasa yang tidak membutuhkan biaya perubahan proses yang mahal. Perusahaan dengan EPS seperti ini mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki kemampuan secara ekonomi kuat, baik untuk membuat peningkatan pengeluaran untuk meningkatkan market share dengan iklan ataupun ekspasi perusahaan maupun menggunakan uangnya untuk melakukan buyback sahamnya. 

Kita harus menghindari menginvestasikan uang pada perusahaan seperti ini :

     Tahun          EPS
2014 78
2013 100
2012 -35
2011 112
2010 -160
2009 134
2008 50
2007 175
2006 200
2005 150

EPS pada contoh di atas menunjukkan perusahaan pada industri yang kompetitif. Hal ini ditunjukkan dengan perusahaan yang terkadang untung besar, terkadang merugi. Pada saat Perusahaan untung, menunjukkan bahwa permintaan lebih besar daripada penawaran, tapi dengan meningkatnya permintaan maka perusahaan akan meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan. Dengan meningkatkan supply, maka akan terjadi pergeseran sehingga penawaran akan lebih banyak dari demand, sehingga akan menurunkan harga jual. Harga jatuh sama dengan perusahaan akan merugi sambil menunggu peristiwa selanjutnya, permintaan kembali lebih besar daripada penawaran di pasar. Banyak sekali perusahaan seperti ini, yang menggantungkan nasib dan penentuan harganya kepada pasar, karena tidak memiliki keunggulan kompetitif jangka panjang. 

Nah, sekarang coba kita lihat pada contoh-contoh kita sebelumnya, KLBF

laporan rugi/laba tahun 2010

laporan rugi/laba 2011 - 2013

Dari tahun 2010 - 2013 EPS KLBF :

     Tahun         EPS         EPS
2009 97
2010 137
2011 158 32
2012 37
2013 41

EPS KLBF menunjukkan selalu meningkat dari tahun ke tahun dalam lima tahun kebelakang (2009 - 2013). Untuk tahun 2012 ada aksi korporasi meningkatkan jumlah saham perusahaan (stocksplit, etc) sehingga EPS menurun. EPS menurun karena jumlah saham yang beredar meningkat (pembagi lebih banyak). Mengapa EPS bisa menurun atau meningkat walau laba perusahaan tetap? bagi yang belum membaca postingan saya sebelumnya bisa membacanya terlebih dahulu.

EPS pada contoh KLBF tersebut pada tahun 2012 turun, bukan berarti laba perusahaan menurun, tetapi dikarenakan jumlah saham yang beredar lebih banyak. Hal ini ditunjukkan pada laporan rugi laba 2012 pada contoh di atas bagian tengah, menunjukkan pada tahun 2011 baik pada laporan rugi/laba 2011 (kanan) maupun 2012 (tengah), laba bersihnya tidak berubah. Aksi perusahaan di tahun 2012 yang mengakibatkan jumlah saham yang beredar bertambah mengakibatkan perhitungan EPS tahun 2011 pada laporan rugi/laba 2012 berbeda dengan laporan pada tahun 2011 sendiri.

Apa yang kita cari, EPS yang terus menunjukkan tren meningkat dalam jangka panjang. Apakah KLBF salah satunya? Ingat, kita harus memeriksanya minimal 10 tahun kebelakang. Nah, tugas teman-teman untuk mencari tahu apakah 5 tahun kebelakang dari tahun 2009 KLBF terus menunjukkan konsistensi pertumbuhan EPS? Cari tahu pula apa aksi korporasi tahun 2012 sehingga jumlah sahamnya bertambah?

Analisa atau filter EPS ini hanyalah salah satu dari 7 filter kita terhadap laporan rugi/laba. Kita harus mencari perusahaan yang memenuhi semua filter ini untuk memastikan bahwa perusahaan yang akan kita beli adalah perusahaan yang memiliki telur emas yang akan memberikan gain yang luar biasa pada investasi kita. Setelah 7 filter ini, masih banyak filter lain pada laporan keuangan neraca yang akan segera kita bahas pada kesempatan berikutnya. Stay tune.




Jumat, 28 Agustus 2015

LAPORAN RUGI/LABA (6) - Laba Bersih

Laba/Rugi operasi setelah dikurangkan dengan beban bunga, laba/rugi penjualan aset, maupun biaya lain-lain akan menjadi laba/rugi sebelum pajak penghasilan yang setelah dikurangkan pajak penghasilan akan menjadi laba bersih perusahaan pada periode pembuatan laporan keuangan laba/rugi tersebut. Ada beberapa konsep yang dapat dipakai untuk menganalisa laba/rugi bersih perusahaan ini. Mari kita bahas satu persatu

contoh letak laba/rugi bersih pada laporan rugi/laba

Konsep pertama untuk menganalisa laba bersih, apakah perusahaan membukukan laba bersih yang menunjukan tren meningkat secara histori. Laba bersih pada satu tahun tertentu saja tidak menunjukkan sesuatu yang dapat kita analisa. Kita akan lebih tertarik pada perusahaan yang membukukan laba bersih yang konsisten menunjukkan tren meningkat dari satu tahun ke tahun berikutnya. 

Catatan : karena program buyback saham oleh perusahaan, memungkinkan untuk terjadinya perbedaan tren pada hitory laba bersih perusahaan dengan history laba per saham. Buyback saham yang dilakukan perusahaan akan meningkatkan laba per saham karena mengurangi jumlah saham yang beredar. Jumlah saham yang beredar berkurang akan mengurangi pembagi dalam menghitung laba per saham, sehingga laba per sahamnya akan meningkat walau mungkin dalam kondisi laba bersih perusahaan tidak meningkat pada tahun itu. Bahkan jika ingin ekstrem, laba bersih pada tahun tersebut sebenarnya turun, tetapi karena ada buyback laba per saham menjadi meningkat.

Sehingga walau banyak analis finansial menggunakan laba per saham, kita tetap harus melihat pada laba bersih untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Rasio laba bersih dibandingkan dengan total penjualan adalah hal yang akan kita amati berikutnya. Perusahaan pemenang akan membukukan rasio yang lebih baik daripada kompetitor pada industrinya. Jika anda diberikan pilihan, mau memilih perusahaan dengan laba bersih 2 Milyar Rupiah dari total penjualan 10 Milyar Rupiah atau perusahaan dengan laba bersih 5 Milyar Rupiah dari total penjualan 100 Milyar Rupiah? Saya akan lebih memilik perusahaan pertama. Karena perusahaan ini membukuan laba bersih 20% dari angka penjualan, sedangkan perusahaan kedua membukukan 5% saja. Itulah mengapa pada pembahasan pertama mengenai total penjualan saya pernah mengatakan tidak banyak yang dapat diartikan dari sebuah total penjualan, sebesar apapun penjualannya. Rasio laba bersih terhadap total penjualan lah yang dapat memberitahukan kita lebih mengenai ekonomi dari bisnis tersebut.

Coca-Cola memiliki rasio laba bersih terhadap total penjualan sebesar 20%, Moodys 31% yang menunjukan perusahaan-perusahaan ini superior. Perusahaan penerbangan Southwest Airlines, yang konsisten membukukan profit, hanya memiliki rasio 7%, yang merefleksikan bahwa bisnis ini merupakan industri yang sangat kompetitif. Bagaimana dengan perusahaan biasa-biasa saja? GM pada tahun-tahun baik (sewaktu mereka tidak rugi, walau jarang) hanya membukukan 3%. 

Filter sederhana kita terhadap laba bersih perusahaan adalah membukukan secara konsisten rasio laba bersih terhadap total penjualan lebih besar dari 20%. Tentu ada pengecualian terhadap industri tertentu. Kita juga harus membandingkan dengan perusahaan sejenis pada industri yang sama untuk mengetahui berapa rasio rata-rata industri itu. Hanya perusahaan seperti ini yang akan masuk dalam watchlist kita untuk menunggu kapan bursa akan memberikan harga yang wajar untuk kita beli. Harga yang wajar bukan berarti menunggu market krisis atau crash. Kita akan memperlajari cara menghitungnya nanti.

Pengecualian untuk filter di atas adalah untuk industri bank dan perusahaan finansial. Industri ini jika membukukan rasio laba bersih yang tinggi terhadap total penghasilan menunjukan bahwa perusahaan atau manajemen perusahaan tidak mengindahkan resiko. Jika kita melihat perusahaan finansial atau bank yang menunjukkan rasio ini dengan angka yang luar biasa, dapat mengindikasikan bahwa manajemen perusahaan mengambil resiko yang lebih besar untuk mendapatkan uang mudah dengan memberikan kelonggaran kredit. Karena hanya itulah cara perusahaan pada industri ini untuk mendapatkan uang. Bagaimana menurut Anda perusahaan perbankan atau finansial yang memberikan kredit secara mudah hanya untuk mendapatkan uang sesaat? Tentu tingkat kredit macetnya akan sangat mengkhawatirkan kita jika memegang sahamnya.

Kita coba hitung laba bersih dan rasionya terhadap total pendapatan KLBF seperti pada contoh di atas. Pada postingan sebelumnya kita sudah membahas mengenai mengapa laba penjualan aset dan biaya rupa-rupa kita keluarkan dari perhitungan. Sehingga pada contoh di atas, bagian tersebut saya silang.

Tahun 2012
Laba Operasi = Rp 2.217.760.040.587
Beban Bunga = Rp 7.513.612.249
Laba Sebelum Pajak = Laba Operasi - Beban Bunga = Rp 2.210.246.428.338
Pajak Penghasilan = Rp 532.918.244.560
Laba Bersih = Rp 1.677.328.183.778
Rasio Laba Bersih terhadap Total Penjualan = 12.30%

Tahun 2013
Laba Operasi = Rp 2.548.918.930.790
Beban Bunga = Rp 28.642.082.811
Laba Sebelum Pajak = Laba Operasi - Beban Bunga = Rp 2.520.276.847.979
Pajak Penghasilan = Rp 602.070.267.545
Laba Bersih = Rp 1.918.206.580.434
Rasio Laba Bersih terhadap Total Penjualan = 11.98%

Nah setelah kita menghitung rasio laba bersih 2012 dan 2013, apakah KLBF masih masuk dalam calon saham yang akan kita beli? Untuk konsep pertama, KLBF masuk karena perusahaan membukukan kenaikan laba bersih. Konsistensinya yang harus kita telusuri kembali dalam lima sampai sepuluh tahun kebelakang.
Untuk konsep kedua, rasio laba bersih terhadap total pendapatan tidak sampai 20%. Tugas kita berikutnya untuk memastikan apakah KLBF masih layak atau tidak adalah mencari laporan keuangan perusahaan pada industri sejenis, apakah rasio ini lebih baik? Berapakah rata-rata rasio perusahaan pada industri ini? 

Selamat mencoba. Semoga bermanfaat

Kamis, 27 Agustus 2015

LAPORAN RUGI/LABA (5) - Profit (Loss) Penjualan Aset dan Biaya Lainnya

Ketika perusahaan menjual asetnya (selain inventory produk) maka keuntungan atau kerugian dari penjualan itu akan dicatat pada pos "Laba (Rugi) atas penjualan aset" pada laporan Rugi/Laba. Laba berasal dari selisih harga pada saat penjualan aset dengan harga buku dari aset tersebut. Jika perusahaan memiliki sebuah aset, kendaraan misalnya dengan harga Rp 500.000.000,- dan setelah depresiasi beberapa tahun nilai buku kendaraan menjadi rp 200.000.000,-. Karena kendaraan sudah tidak produktif lagi, perusahaan menjual aset tersebut. Jika kendaraan laku terjual Rp 250.000.000,- maka perusahaan akan mencatatkan laba atas penjualan aset tersebut Rp 50.000.000,-. Sebaliknya jika perusahaan hanya bisa menjual Rp 150.000.000,- maka perusahaan akan mencatatkan kerugian atas pernjualan aset sebesar Rp 50.000.000,-

Pos lainnya atau rupa-rupa mencakup penghasilan atau biaya-biaya non-operasi, pendapatan maupun pengeluaran yang jarang terjadi. Hal-hal yang diluar proses normal bisnis. Bisa berupa perjanjian lisensi, patent, dan lainnya.

Terkadang kejadian tidak berulang ini, baik dari pos laba/rugi penjualan aset maupun perndapatan/biaya lain-lain menambah secara signifikan (angkanya besar) pada laporan rugi/laba. Karena kejadian ini tidak berulang dan jarang, maka kita perlu mengeluarkan pos-pos ini dari perhitungan profit bersih perusahaan agar pencarian kita terhadap perusahaan super tidak bias. Jangan sampai kita hanya melihat bahwa perusahaan pada tahun tersebut profit, ternyata hampir 80% profitnya berasal dari penjualan aset bukan dari operasional perusahaan tersebut. Tentu kita tidak akan membeli perusahaan seperti itu. 

contoh pos laba penjualan aset dan biaya rupa-rupa

Kita sudah hampir selesai membahas mengenai Laporan Rugi/Laba. Pada postingan berikutnya kita akan membahas mengenai Laba Sebelum Pajak, Pajak Penghasilan, dan Net Earnings.

Rabu, 26 Agustus 2015

LAPORAN RUGI/LABA (4) - Laba Operasi dan Beban Bunga

Pada kesempatan sebelumnya kita telah membahas mengenai :

Gross Profit atau laba kotor dikurangkan dengan beban operasi akan menjadi laba operasi. Jika kita menggunakan contoh sebelumnya pada saham KLBF maka laba operasi perusahaan sebagai berikut :
Laba Operasi = Laba Kotor - Beban Operasi (Beban Penjualan, Administrasi dan Umum, R&D)

Tahun 2012 
Laba Operasi = 6.533.433.806.831 - (3.573.502.403.790 + 651.416.535.513 + 90.754.826.941) = Rp 2.217.760.040.587

Tahun 2013
Laba Operasi = 7.679.113.456.058 - (4.230.293.635.075 + 764.512.533.499 + 135.388.356.694) = Rp 2.548.918.930.790

Setelah kita mengetahui laba operasi perusahaan, pada laporan rugi/laba ada beban-beban lainnya yang akan mengurangkan beban operasi ini. Pada postingan kali ini kita akan membahas salah satu beban yang perlu diperhatikan, yaitu beban bunga.
Beban bunga adalah beban yang ditanggung perusahaan untuk membayar bunga hutang atau pinjaman. Hutang akan dicatat perusahaan pada laporan neraca, sedangkan bunganya akan membebani perusahaan dan dicatat pada laporan rugi/laba. Beban bunga ini merupakan beban finansial, bukan beban operasi sehingga kita keluarkan dan tidak digabungkan ke beban operasi. Karena beban ini tidak berhubungan secara langsung dengan proses produksi maupun proses penjualan. Beban bunga bisa merefleksikan total hutang perusahaan. Semakin besar hutang yang dimiliki perusahaan, semakin besar beban bunga.

Perusahaan dengan beban bunga yang besar bisa dikatakan tergolong kelompok industri yang kompetitif, karena membutuhkan belanja modal yang besar untuk tetap mempertahankan keunggulan kompetitifnya di pasar. Perusahaan yang memiliki outlook jangka panjang yang baik, rasio beban bunga terhadap laba operasinya kecil. Contoh P&G hanya membayar sekitar 7% rata-rata rasio beban bunga dibandingkan dengan laba operasi. Bandingkan dengan perusahaan ban Goodyear yang tergolong industri dengan tingkat kompetisi yang tinggi dan membutuhkan belanja modal besar, menggunakan rata-rata 49% laba operasi hanya untuk membayar beban bunga.

Tetapi industri yang memiliki tingkat kompetisi tinggi tidak berarti tidak ada perusahaan yang berkilau. Beban bunga inilah yang akan menjadi filter kita untuk mencari telur emas dari industri dengan tingkat kompetisi yang tinggi. Contoh perusahaan penerbangan, sebagian besar perusahaan memiliki beban bunga yang besar untuk membeli pesawat. Tetapi perusahaan Southwest Airline, salah satu perusahaan penerbangan yang konsisten menciptakan laba, hanya membebankan sekitar rata-rata 9% laba operasinya untuk membayar beban bunga. Bandingkan dengan kompetitornya United Airlines yang keluar masuk zona kebangkrutan. Beban bunganya terhadap laba operasi mencapai rata-rata 61%. American Airline bahkan menggunakan laba operasi sebanyak 92% hanya untuk membayar beban bunga.

Berapa patokan rasio beban bunga terhadap laba operasi bisa dikatakan rendah? Perusahaan umumnya dapat dikatakan baik jika beban hutangnya hanya 15% dari laba operasinya. Tetapi kita juga harus memperhatikan pada industri apa perusahaan itu bergerak. Karena dari satu industri ke industri lainnya akan memiliki batasan berbeda. Sebagai contoh Bank Wells Fargo yang sahamnya dimiliki Warren Buffett sebanyak 14%, beban bunganya mencapai 30%. Tetapi rasio itu termasuk salah satu rasio terendah dan terbaik jika dibandingkan dengan sesama bank atau industrinya.

Filternya sederhana, pada perusahaan apapun dan industri apapun yang memiliki rasio beban bunga terhadap laba operasi terkecil hampir bisa dikatakan memiliki keunggulan kompetitif yang dapat membuat perusahaan tetap bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Sekarang coba kita cek rasio beban bunga KLBF terhadap laba operasinya.

tahun 2012 : 17.513.612.249 / 2.217.760.040.587 = 0.79%
tahun 2013 : 28.642.082.811 / 2.548.918.930.790 = 1.12%

Dapat kita lihat bahwa KLBF termasuk perusahaan dengan ratio beban bunga yang baik karena < 15%. Nah, tugas teman-teman selanjutnya adalah mencari tahu, pada industri yang sama dengan KLBF berapa ratio beban bunga perusahaan pesaing? Apakah dalam lima sampai sepuluh tahun kebelakang KLBF memiliki rasio beban bunga yang konsisten di angka 0.7 - 1.5 %? Apakah selalu di bawah 15%? Sekali lagi, kita mencari perusahaan yang konsisten, karena kekonsistenannya lah yang akan memberikan pertumbuhan kepada investasi kita. Selamat mencoba dan tunggu postingan berikutnya, kita akan membahas komponen lain dari laporan rugi / laba yang akan membuat kita menemukan telur emas.



Selasa, 25 Agustus 2015

LAPORAN RUGI/LABA (3) - BIAYA OPERASI - Biaya Research and Develpoment + CONTOH KASUS

Salah satu biaya yang termasuk di dalam kelompok biaya operasi yang akan kita gali lebih dalam adalah biaya research and development (R&D). Berikut contoh letak beban R&D pada laporan Rugi/Laba


Beban R&D ini adalah poin penting untuk kita mengetahui apakah sebuah perusahaan memiliki keunggulan kompetitif yang dapat berlangsung jangka panjang. Beberapa contoh keunggulan kompetitif perusahaan dapat dikarenakan paten yang dimiliki perusahaan, atau mungkin teknologi canggih yang dimiliki. Jika keunggulan kompetitif perusahaan dikarenakan adanya patent yang dimiliki perusahaan tersebut, contoh perusahaan farmasi, maka akan ada satu waktu jangka waktu patent tersebut habis dan keunggulan kompetitif yang dimilikinya menghilang begitu saja.

Jika keunggulan kompetitif perusahaan muncul karena teknologi yang ditawarkan, maka akan selalu muncul teknologi terbaru yang akan menggantikannya. Sebagai contoh pernahkah Anda mengetahui berapa harga saham Blackberry tahun 2005 - 2008? Dan berapa harga sahamnya sekarang? di tahun 2007 harga sahamnya pernah mencapai $230 / lembar, dan per hari ini 25/08/2015 harga sahamnya hanya $6.97 / lembar. Keunggulan kompetitif yang dimiliki hari ini di dunia teknologi bisa menjadi usang dan ketinggalan jaman besok!

Perusahaan yang menghabiskan biaya R&D besar, bukan hanya akan membebani perusahaan dari segi pengeluaran R&D nya saja, tetapi perusahaan ini juga akan secara konstan harus menciptakan produk baru yang artinya mereka juga harus melakukan redesign dan update program penjualan,  tools, mesin, yang juga akan meningkatkan beban penjualan serta beban administrasi dan umum. 

Kita lihat contoh MERCK. perusahaan ini mengeluarkan biaya R&D 29% dari laba kotor dan 49% untuk biaya penjualan dan administrasi umum. Secara total, ketiga biaya ini memakan profit kotor sebanyak 78%. Apa yang akan terjadi jika MERCK gagal menemukan dan membuat patent baru yang akan menjadi sumber penghasilan perusahaan berikutnya setelah patent sebelumnya expire?

MOODY'S, perusahaan pemberi rating merupakan salah satu waham favorit WB. Apa alasannya? Karena jika kita lihat, perusahaan ini hanya menghabiskan 25% laba kotor untuk beban penjualan dan beban administrasi umum dan tidak mengeluarkan biaya R&D. Coca-Cola juga tidak memiliki biaya R&D. Perusahaan tanpa patent, tanpa menjual teknologi seperti perusahaan-perusahaan ini akan membuat keunggulan kompetitif perusahaan akan tetap berlangsung dalam waktu yang lama tanpa takut apakah masa berlaku patent akan habis, ataukan apakah teknologi sekarang akan ketinggalan jaman.

Perusahaan dengan biaya R&D yang besar - agar tetap mempertahankan keunggulan kompetitifnya  -bisa kita katakan mempertaruhkan ekonomi jangka panjang perusahaan pada resiko dan ketidakpastian. Jika ada perusahaan dengan masa depan penuh ketidakpastian, apakah kita akan berinvestasi dan menaruh uang kita di sana? Mungkin inilah sebabnya Warren Buffett tidak pernah tergoda untuk membeli perusahaan teknologi.

Untuk contoh kasus saham KLBF di atas, rasio biaya R&D terhadapa laba kotor perusahaan sebagai berikut :

Tahun 2012
Rasio Beban R&D = Beban R&D / Laba Kotor = 90.754.826.941 / 6.533.433.806.831 = 1.39%

Tahun 2013
Rasio Beban R&D = Beban R&D / Laba Kotor = 135.388.356.694 / 7.679.113.456.058 = 1.76%

Perusahaan KLBF hanya menggunakan laba kotor sebesar 1 - 2% untuk R&D.

Semoga penjelasan ini cukup bermanfaat dan dapat dipahami. Karena filter ketiga ini merupakan salah satu poin penting untuk kita menilai apakah perusahaan memiliki keunggulan kompetitif jangka panjang yang akan tetap bertahan lima puluh hingga seratus tahun kedepan dan terus mencetak profit untuk pada shareholdernya.

LAPORAN RUGI/LABA (2) - BIAYA OPERASI - Beban Penjualan, Beban Umum dan Administrasi (CONTOH KASUS)

Disclaimer : Postingan ini tidak bermaksud untuk mengajak pembaca membeli saham yang dicontohkan. Ini hanyalah contoh untuk memperjelas penjabaran pada postingan sebelumnya dengan contoh real. Ingat bahwa setiap investasi memiliki resiko.


Pada contoh kasus kali ini kita tetap menggunakan contoh sebelumnya, KLBF


Tahun 2012
Beban Penjualan = Rp 3.573.502.403.790
Beban Administrasi dan Umum = Rp 651.416.535.513
Rasio Beban Penjualan, Administasi Umum terhadap Gross Profit 
= (3.573.502.403.790 + 651.416.535.513) / 6.533.433.806.831 = 64.67%

Tahun 2013
Beban Penjualan = Rp 4.230.293.635.075
Beban Administrasi dan Umum = Rp 764.512.533.499
Rasio Beban Penjualan, Administasi Umum terhadap Gross Profit 
= (4.230.293.635.075 + 764.512.533.499) / 7.679.113.456.058 = 65.04%

Apa arti dari angka-angka tersebut? Artinya pada tahun 2012 perusahaan KLBF menghabiskan 64.67% dari profit kotornya untuk dibelanjakan pada pos / beban penjualan dan beban administrasi dan umum. Sedangkan pada tahun 2013 perusahaan membelanjakan profit kotornya sebanyak 65.04%. Kedua pos beban ini termasuk beban produktif yang artinya akan mendukung pertumbuhan penjualan perusahaan. Beban penjualan / selling akan memperkuat brand perusahaan, beban administrasi dan umum, khususnya beban gaji pegawai serta management akan menguatkan perusahaan dari dalam. Pertanyaan berikutnya, apakah rasio sebesar itu baik? Apakah itu termasuk perusahaan yang kita cari? Pada postingan sebelumnya kita sudah membahas semakin kecil angka rasio ini semakin baik. Di kisaran angka 30% pada perusahaan umumnya sudah sangat luar biasa. Yang normal dan bisa dikatakan baik adalah 30% - 80%. Jika melihat rasio beban penjualan dan administrasi umum KLBF terhadap laba kotornya, maka kita dapat menganggap perusahaan ini baik dalam pengelolaan beban tersebut. Tetapi akan lebih baik lagi jika kita membandingkan dengan perusahaan sejenis. Berapa rasio beban ini pada perusahaan sejenis? Mari teman-teman cari laporan keuangan perusahaan sejenis untuk mengetahuinya.

Faktor kedua yang perlu kita perhatikan juga adalah, apakah perusahaan menggunakan profit kotornya untuk kedua beban ini teratur dan terencana? Bagaimana kita mengetahui bahwa perusahaan sudah merencanakannya? Hal itu terlihat dari konsistennya besaran rasio beban penjualan dan administrasi umum terhadap laba kotor perusahaan. Pada contoh di atas, kurang lebih perusahaan menghabiskan 65 % profit kotor untuk pos tersebut. Nah, sekarang tugas teman-teman adalah mencari tahu lima sampai sepuluh tahun ke belakang, apakah rasio beban penjualan dan administrasi terhadap laba kotor perusahaan ini konsisten di kisaran 65%? Berlatihlah untuk mencari dan membaca laporan keuangan. Selamat mencoba. Semoga contoh kasus ini lebih memudahkan pemahaman mengenai cara menghitung rasio beban penjualan dan administrasi terhadap laba kotor. Postingan berikutnya, kita akan membedah komponen lain dari Laporan R/L, yaitu beban R&D yang akan membedakan perusahaan mana yang dalam jangka panjang akan bersinar seperti telur emas, ataukah hanya perusahaan biasa-biasa saja. 

Senin, 24 Agustus 2015

BURSA / INDEKS AKAN SELALU KEMBALI NAIK.

Postingan kali ini saya menyadur dari buku berjudul "Profit from the Panic" karangan Adam Khoo, Conrad Alvin Lim dan Ryan Huang. Versi Indonesianya dapat dibeli di toko-toko buku terdekat. Mengapa saya menyadur bagian buku ini kali ini? Karena di dalam buku tersebut ada penjelasan mengapa bursa akan selalu kembali naik setelah adanya crash atau krisis, dan ini adalah kesempatan besar untuk kita sebagai value investor untuk masuk ke bursa dan membeli saham perusahaan super yang kita incar. Berikut petikan isi buku itu :

Anda dapat melihat bahwa dalam jangka waktu pendek, bursa saham bergerak sangat cepat seperti permainan rollercoaster. Setiap kali bursa bergerak naik, pasti akan turun kembali. Setiap kali bursa turun, pasti akan kembali naik. 

Namun yang paling penting untuk diingat adalah dalam jangka waktu panjang, bursa akan selalu naik. Dalam 50 tahun terakhir, bursa Amerika telah menghasilkan pendapatan tahunan gabungan sebesar 12.08% dengan deviden yang diinvestasikan lagi.

Orang-orang sering bertanya bila bursa sudah merangkak naik dengan stabil setelah sekian lama, apakah kita masih bisa mengharapkannya untuk terus naik? Jawabannya adalah YA! Kenapa bisa terus naik? Ada tiga alasan :

Inflasi
Peningkatan biaya hidup yang tak terhindarkan akan memastikan kenaikan harga barang-barang dan jasa. Pendapatan perusahaan pun akan ikut naik dalam hitungan dollar. Hal ini akan tercermin dalam harga saham mereka (yang berkontribusi pada nilai indeks, yang kemudian juga ikut naik)

Peningkatan Permintaan
Permintaan atas barang dan jasa akan lebih banyak, sebagain berkat peningkatan pertumbuhan populasi dunia dan negara yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini terutama dipicu oleh negara-negara berkembang, seperti China, India, dan negara Asia lainnya. Semakin banyak orang yang membeli hamburger, komputer, obat-obatan, berarti pendapatan, keuntungan, nilai bersih perusahaan yang bersangkutan akan naik - bersamaan dengan harga saham mereka.

Struktur Indeks
Indeks hanya berisikan perusahaan-perusahaan terbaik. Bila ada di antara mereka yang tidak berkinerja dengan baik, mereka akan ditendang keluar dan digantikan dengan perusahaan yang berkinerja lebih baik. Misalnya indeks Dow Jones pada bulan Oktober 2008m perusahaan asuransi AIG dikeluarkan dan digantikan oleh perusahaan makanan dan minuman raksasa Kraft.
Pada kenyataannya, bila Anda membandingkan 25 tahun pertama (1957 - 1982) dengan 25 tahun kedua (1982 - 2007), Anda akan melihat bahwa tren naik menjadi lebih curam. Hal ini berarti bursa saham bertumbuh semakin cepat. Alasan dari fenomena ini adalah teknologi dan globalisasi. Dulu pada tahun 1950an, sebuah perusahaan butuh 10 hingga 20 tahun untuk mendapatkan keuntungan miliaran dollar. Kini sebuah perusahaan seperti Google meraih keuntungan yang sama hanya kurang dari lima tahun.

Jadi, setelah mengetahui semua ini, strategi apa yang dapat kita gunakan untuk menghasilkan keuangan secara konsisten dan menguntungkan dari bursa?